BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Minggu, 16 Januari 2011

“Pulang Kandang” Jadi “Bobotoh” Pasundan


Usai perhelatan AFF Cup kemarin suporter indonesia “pulang kandang”. Sejak awal Desember 2010 suporter dari penjuru nusantara fokus mendukung timnas. Tak henti-henti dukungan mengalir, apalagi setelah timnas lolos dari fase grup dan melaju ke babak semi final.
Tak hanya sampai disana, puncaknya saat timnas berhasil masuk final, Gelontoran dukungan terasa begitu luar biasa. Membangkitkan jiwa nasionalisme bangsa ini. Seakan ada suatu Energi yang begitu dahsyat, untuk membela bangsa, membela negara, demi timnas (Merah Putih) Indonesia.
Suporter tanah air bersatu, fanatisme terhadap daerah masing2 seolah lenyap. Bukan lagi Surabaya, Bandung, Jakarta, Palembang, dll,  semua melebur jadi satu, INDONESIA. Tak peduli diantara mereka terdiri dari Sunda, Jawa, Batak, atau warga keturunan sekalipun, yang pasti semua sepakat “GARUDA di dadaku”. Begitu besar euforia bangsa ini, sehingga mereka seperti “amnesia (ringan)”.
Sejauh itukah? Ya!! Itulah yang terjadi. Tak ada Viking, tak ada the jak, bonekmania, aremania, pasopati, singamania, dll.
Identitas kedaerahan ditanggalkan. Egoisme lokal dilupakan. Lagu, Slogan, atau yel-yel dukungan yang biasa mereka teriakan seakan terlupakan dan berganti menjadi “IN-DO-NE-SIA, IN-DO-NE-SIA, dan IN-DO-NE-SIA”.
Sungguh luar biasa! Tatkala gemuruh lagu kebangsaan “Indonesia Raya” berkumandang hati kita bergetar. Saat “Garuda di Dadaku” dinyanyikan semangat kita terbakar. Gelora Bung Karno saat itu benar2 bergelora, menyatu dengan semangat bangsa Indonesia. Semua teriak, semua bersorak, semua gembira, semua bahagia menyaksikan timnas kita bertarung dengan gagah.
Sayangnya euforia tersebut harus berkesudahan lebih cepat. Di akhir perjuangan itu timnas menyerah pada malaysia sekaligus gagal meraih tropi juara. Sebuah kekalahan yang menyakitkan dan mengubur harapan kita meraih gelar AFF untuk pertama kalinya.
Meski demikian, sebagai pecinta sepakbola nasional, saya tetap bangga menyaksikan bersatunya suporter Indonesia. Dukungan itu berjalan murni dari hati pecinta sepakbola, tanpa ada sentimen daerah dan berlangsung tanpa gesekan antar suporter Indonesia seperti yang biasa kita saksikan di kompetisi ISL.
Kini AFF Cup sudah berakhir, waktunya suporter “pulang kandang”, dan kembali membela tim kesayangan masing2. Pertanyaanya, apakah keharmonisan kemarin akan bertahan? Saya kira semua sepakat bahwa damai itu indah? Tak salah rasanya jika persatuan kemarin diadopsi pada kompetisi ISL.
Seandainya ini dapat terwujud, tentunya kompetisi ini akan lebih sehat dan tak ada lagi permusuhan antar sesama suporter. Semua bisa mendukung, semua suporter bebas bertandang. Kita bebas mendukung tim kesayangan dimana saja. Ini yang dibutuhkan sepakbola Indonesia saat ini. Dukungan yang supportif, bersaing secara sehat dan elegan, mengedepankan persahabatan.
SEPAKBOLA PASUNDAN
Selain pecinta sepakbola nasional, sebagai orang yang lahir di tanah pasundan, saya “pulang kandang” dan kembali memberikan hati saya pada tim kebanggan orang Sunda, Persib Bandung. Mulai dari buyut, kakek, bapak, sampai turun ke saya, semua sepakat Persib “dina manah”. Sampai kapanpun Persib selalu jadi kebanggan.
Namun seiring bergulirnya persepakbolaan Indonesia saat ini, belakangan muncul Kompetisi tandingan ISL yang berada di bawah naungan PSSI, bernama Liga Premier Indonesia (LPI). Meskipun digembar-gemborkan PSSI sebagai kompetisi ilegal, bagi saya keberadaan LPI sah-sah saja, dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan termasuk klub peserta di dalamnya, Salah satunya Bandung FC.
Sebagai salah satu klub peserta LPI asal Bandung Jawa Barat, yang diantaranya berisikan mantan pemain Persib, saya turut berbangga hati memiliki klub perwakilan asal tanah kelahiran.
Meski demikian, sempat tersiar kabar bahwa klub ini akan menjadi salah satu pesaing keberadaan Persib, seperti era Galatama dulu, dimana klub Bandung Raya menjadi salah satu rival sekota “Maung Bandung”.
Menurut saya kekhawatiran tersebut tak akan pernah terjadi. Pasalnya Persib dan Bandung FC bermain pada kompetisi yang berlainan. Selain itu masyarakat Bandung dan Jabar sudah terlalu cinta kepada Persib. Adapun nanti, akan ada sebagian bobotoh yang turut mendukung Bandung FC, bukan Berarti melupakan Persib. Karena Persib adalah Bandung, dan Bandung adalah Persib.
Justru dengan adanya Bandung FC, menurut saya menjadi salah satu jalan bagi kita (bobotoh) untuk lebih bersatu mendukung tim yang berasal dari Bandung atau Jabar. Di divisi utama kita mempunyai Persikab, di IPL kita memiliki Bandung FC, dan di ISL ada Persib. Bukankah semuanya membawa nama daerah kita tercinta? Jadi apa salahnya jika kita bersatu mendukung ketiganya sekaligus? Dengan Bonek saja yang jauh di Jawa Timur “kita saudara”, apalagi dengan sesama “urang” Sunda.
Seandainya saja organisasi suporter (bobotoh) yang sudah ada sekarang  melakukan sebuah langkah baru mendukung semua klub yang berbasis Sunda (Persib, Persikab, Bandung FC), saya yakin dukungan itu akan membawa sepakbola Pasundan jauh lebih maju. Atau seandainya semua elemen bobotoh melebur dan membuat wadah baru pendukung sepakbola Pasundan, hasilnya akan jauh lebih baik.
Menurut saya kita perlu men-support ketiga tim ini, karena sebuah klub sepakbola tanpa dukungan suporter bukanlah apa-apa, tidak akan disegani, dan hasilnya akan selalu nihil, tanpa gelar juara, tanpa prestasi, tanpa kebanggan. Ketiga klub ini adalah milik kita, milik Bandung, milik Jabar, milik “urang” Sunda.
Apa yang didapat jika kita bersatu dan mendukung ketiganya? Jawabnya adalah prestasi, potensi, dan pemain muda berbakat (aset lokal). Banyak bibit pemain lokal yang tidak tertampung, akhirnya lari ke daerah lain. Banyak bibit potensial yang harus “mati” ketika masih “kuncup”. Sebuah kerugian besar menyia-nyiakan potensi lokal.
Tidakkah kita berbangga hati jika kelak ada 5 sampai 7 pemain asal Pasundan menghuni skuad timnas? Tidakkah kita merasa bangga jika “urang” Sunda bisa berbicara di level nasional?
Modal kita adalah fanatisme kedaerahan. Kita arahkan potensi ini pada hal positif. Bukan hanya Persib, tapi Persikab dan Bandung FC juga butuh dukungan “bobotoh”. Adanya dukungan tersebut  membuat mental tim menjadi lebih siap, secara finansial juga akan sangat terbantu. Saya yakin kedua tim ini menunggu “restu” (dukungan) dari kita, “Restu” dari “bobotoh” sebagai pemilik mereka.
Kalaupun nanti terjadi “derby” seperti yang biasa terjadi di liga2 Eropa,  biarkanlah “derby” itu menjadi milik ketiga tim ini, dan kita bisa mensupport keduanya dengan positif. Persib pernah dikalahkan Persebaya, dan itu tidak membuat kita bermusuhan dengan Bonekmania kita masih tetap bisa supportif.
Jadi, ayolah! Saya kira jika ini diniatkan, tidak mustahil untuk dilakukan. Atas dasar kecintaan terhadap daerah dan memajukan sepakbola daerah. Ide menyatukan elemen bobotoh ini bukanlah hal yang baru, karena baru kemarin di ajang AFF Cup kita pernah melakukannya, Bahkan seluruh Indonesia. Untuk “scope” lokal di Jawa Barat saya yakin kita bisa melakukannya. Jika Indonesia adalah Bangsa dan negara kita, maka Bandung atau Jabar adalah tempat kelahiran kita.
Sebagai pecinta sepakbola damai, “ngeri” rasanya jika kita meniru apa yang terjadi di Jawa Timur. Suporter di sana akhirnya harus terpecah dengan hadirnya beberapa klub lokal baru yang bersaing dengan klub pendahulunya. Mereka saling menjatuhkan, dan menjadi musuh bebuyutan. Gesekan sudah jadi hal biasa, saling ejek, saling hina dan saling serang.
Miris rasanya  jika ini terjadi di tanah kelahiran saya. Sama-sama lahir di tanah Sunda, sama-sama berbahasa sunda, sama-sama makan dengan orang sunda, kenapa harus saling menjatuhkan?
Sebelum terjadi, lebih baik kita bersatu menghimpun kekuatan suporter baru, “Bobotoh” Pasundan. Setelah usai AFF Cup kemarin kita semua “Pulang kandang” dan membawa hal positif.  Kita adopsi dan terapkan persatuan itu untuk mendukung dan memajukan sepakbola Pasundan.
Saya berharap inohong-inohong, pupuhu, kokolot, dedengkot dan kita masyarakat pecinta sepakbola, ikut serta menyatukan urang bandung, urangJabar, dan urang sunda. Demi memajukan sepakbola  dan persaudaraan, juga perdamaian di tanah sunda. ‎
Salam damai, dan majulah sepakbola Pasundan.

0 komentar: